TendanganBebas.com – 27 April 2026 | Pelatih asal Skotlandia, David Moyes, menegaskan keprihatinannya atas penurunan performa Everton dalam situasi bola mati setelah timnya menelan kekalahan tipis 1-2 di laga melawan West Ham United pada Minggu (25 April 2026). Menurut Moyes, masalah utama terletak pada kurangnya koordinasi dan antisipasi pada set-piece, yang dulunya menjadi salah satu senjata paling mematikan Everton musim ini.
Setelah menonton rekaman pertandingan, Moyes mengidentifikasi tiga titik lemah utama yang berkontribusi pada kegagalan timnya dalam mengelola bola mati. Pertama, penempatan pemain di zona pertahanan tidak optimal, sehingga ruang kosong mudah dimanfaatkan oleh lawan. Kedua, eksekusi tendangan bebas dan corner kurang variasi, membuat lawan dapat memprediksi pola serangan Everton. Ketiga, kurangnya disiplin taktik di antara pemain belakang menyebabkan kebingungan dalam menutup area kritis.
“Kami dulu dikenal kuat dalam set-piece, baik menyerang maupun bertahan. Sekarang, saya melihat adanya penurunan standar yang signifikan,” ujar Moyis dalam konferensi pers pasca pertandingan. “Jika kami tidak memperbaiki hal ini, kita akan terus kehilangan poin penting di pertandingan-pertandingan krusial.”
Berikut rangkuman masalah yang diungkap Moyes:
- Posisi pemain yang tidak terorganisir: Pada beberapa tendangan sudut, bek tengah Everton sering terjebak di area yang seharusnya dijaga oleh pemain sayap, membuka celah bagi penyerang West Ham untuk masuk ke dalam kotak penalti.
- Kurangnya variasi dalam eksekusi: Tendangan bebas dari sisi kanan jarak jauh selalu diambil dengan cara yang sama, memberi lawan waktu untuk menyiapkan tembok dan menutup jalur tembakan.
- Kebingungan taktik pertahanan: Saat West Ham melakukan serangan balik setelah corner, beberapa pemain Everton tampak ragu apakah harus menahan posisi atau mundur untuk menutup ruang.
Moyes menekankan pentingnya latihan intensif pada set-piece menjelang pertandingan berikutnya. Ia berencana menambah sesi khusus pada minggu latihan, melibatkan pelatih taktik khusus dan analis video untuk memperbaiki koordinasi tim.
Selain fokus pada aspek teknis, Moyes juga menyoroti faktor mental. “Kepercayaan diri pemain dalam situasi bola mati menurun setelah beberapa kegagalan awal musim. Kami harus membangkitkan kembali rasa percaya itu melalui latihan yang terstruktur dan motivasi yang tepat,” tambahnya.
Para pemain Everton sendiri mengakui adanya masalah. Salah satu gelandang, James Tarkowski, mengungkapkan, “Kami memang terlalu percaya diri pada awal musim, sehingga mengabaikan detail kecil yang sangat penting dalam set-piece. Kini, kami harus belajar kembali dari kesalahan.”
Analisis taktik dari pihak ketiga juga mengonfirmasi temuan Moyes. Data statistik menunjukkan bahwa Everton mencatat hanya tiga gol dari set-piece sepanjang 12 pertandingan terakhir, turun drastis dari rata-rata lima gol per pertandingan pada paruh pertama musim. Selain itu, mereka kebobolan dua gol dari situasi serupa, menandakan masalah tidak hanya pada serangan tetapi juga pertahanan.
Langkah selanjutnya bagi Everton meliputi:
- Peningkatan koordinasi antara bek dan gelandang dalam menandai pemain lawan pada tendangan bebas.
- Pengenalan variasi formasi di kotak penalti, seperti penggunaan pemain sayap di posisi tengah untuk menciptakan kebingungan.
- Simulasi situasi bola mati dalam latihan rutin, termasuk skenario tekanan tinggi dari lawan.
Jika Everton dapat memperbaiki kelemahan pada Everton set-piece, peluang mereka untuk kembali bersaing di papan tengah klasemen Liga Inggris akan meningkat signifikan. Sebagai tambahan, perbaikan ini juga dapat memberikan dorongan moral bagi pemain dan mendukung strategi jangka panjang Moyes untuk menstabilkan performa tim menjelang akhir musim.
Dalam beberapa minggu ke depan, mata publik akan tertuju pada bagaimana Everton mengimplementasikan perubahan taktik ini. Keberhasilan atau kegagalan mereka dalam memperbaiki Everton set-piece dapat menjadi faktor penentu dalam perjuangan mereka untuk menghindari zona degradasi.





