TendanganBebas.com – 23 April 2026 | Colton Herta, pembalap muda asal Amerika Serikat yang tengah meniti karier di ajang Formula 2, baru-baru ini membuka tabir drama yang menghalangi langkahnya menembus puncak Formula 1 bersama Red Bull. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Herta menguraikan rangkaian perbincangan dengan penasihat senior Red Bull, Dr. Helmut Marko, serta proses penolakan super licence yang membuatnya terpaksa menunda impian mengendarai mobil balap tertinggi di dunia.
Pada akhir tahun 2022, Herta menerima tawaran resmi dari tim AlphaTauri, cabang junior Red Bull yang beroperasi sebagai batu loncatan menuju tim utama. Kontrak yang ditawarkan menjanjikan tempat di grid F1 untuk musim 2023, sebuah peluang langka bagi pembalap yang baru menapaki Formula 2. Namun, meski dokumen kontrak sudah disiapkan, proses penandatanganan tidak pernah terealisasi.
“Saya sudah berada dalam pembicaraan intens dengan Helmut Marko sejak awal 2022. Kami membahas rencana jangka panjang, termasuk bagaimana saya bisa mengakumulasi poin yang diperlukan. Namun, ketika saya mengajukan permohonan super licence, FIA menolak dengan alasan tidak cukup poin kompetitif,” ujar Herta dalam pernyataannya.
Berikut rangkaian kronologis yang dijabarkan Herta:
- Januari 2022: AlphaTauri mengumumkan minat resmi pada Herta, menawarkan kontrak untuk musim 2023.
- Februari 2022: Dr. Helmut Marko mengadakan pertemuan tatap muka dengan Herta dan manajernya, membahas strategi pengumpulan poin super licence.
- Maret–Juli 2022: Herta berkompetisi di Formula 2, meraih beberapa podium namun belum mencapai ambang poin yang ditetapkan FIA.
- Agustus 2022: Permohonan super licence diajukan dengan dukungan Red Bull; FIA menolak karena tidak memenuhi kuota poin minimum.
- September 2022: Red Bull memutuskan menunda penempatan Herta di AlphaTauri, memberi ruang bagi pembalap lain yang sudah memenuhi syarat.
Penolakan tersebut menimbulkan spekulasi luas di kalangan penggemar motorsport. Beberapa analis berpendapat bahwa Red Bull sebenarnya menguji kesiapan Herta secara psikologis, sementara yang lain menilai keputusan FIA sebagai upaya menjaga standar kompetisi yang ketat.
Herta menegaskan bahwa ia tidak melihat penolakan ini sebagai kegagalan, melainkan sebagai pelajaran berharga. “Saya tetap bertekad untuk kembali ke jalur yang sama. Saat ini saya berfokus pada musim Formula 2 bersama tim Cadillac, dengan harapan poin yang saya kumpulkan akan membuka pintu bagi super licence di masa depan,” tegasnya.
Selain menunggu kesempatan di F1, Herta juga menyoroti pentingnya dukungan teknis dan finansial dalam menggapai target. Ia menyebut bahwa program pengembangan talenta yang dijalankan Red Bull, termasuk akses ke simulator dan pelatihan fisik, memberikan nilai tambah meski belum berujung pada kontrak balap.
Dalam konteks industri balap, kasus Herta menyoroti betapa kompleksnya proses transisi dari formula menengah ke kelas tertinggi. Tidak hanya soal performa di lintasan, melainkan juga persyaratan administratif, kebijakan tim, serta dinamika politik internal organisasi balap internasional.
Para pengamat memprediksi bahwa Herta memiliki peluang besar untuk kembali ke jalur Red Bull, mengingat rekam jejaknya yang impresif di Formula 2 dan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai mesin. Namun, ia harus menunggu hingga mengumpulkan poin super licence yang cukup atau menunggu kebijakan FIA yang mungkin mengalami revisi di musim mendatang.
Secara keseluruhan, drama yang mengelilingi upaya Colton Herta menembus Formula 1 bersama Red Bull menjadi pelajaran penting tentang ketatnya standar regulasi dalam dunia balap elite. Bagi Herta, perjalanan ini belum berakhir; ia tetap mengincar mimpi menjadi pembalap F1, dengan tekad yang lebih kuat setelah melewati rintangan administratif yang menantang.
Dengan dukungan tim Cadillac di Formula 2 dan harapan akan perubahan kebijakan super licence, Herta berharap dapat menutup bab drama ini dan melangkah ke grid F1 pada kesempatan berikutnya.






