TendanganBebas.com – 26 April 2026 | Horsens, Denmark – Pada laga penyisihan Grup C Piala Uber 2026, pasangan ganda putri Indonesia, Febriana Dwipuji Kusuma dan Meilysa Trias Puspitasari, hampir menelan kekalahan melawan tim Kanada. Kedua pemain mengaku menyesal karena tidak mampu memanfaatkan sejumlah kesempatan emas yang muncul selama pertandingan.
Sejak awal set pertama, Indonesia memperlihatkan pola permainan yang agresif. Servis-serbis cepat dan smash yang tajam berhasil menekan lawan, namun eksekusi di net dan pertahanan balik kurang konsisten. Saat kesempatan membuka poin pada menit ke-7, Febriana melakukan pukulan forehand ke arah sudut lapangan, namun Meilysa gagal menutup dengan smash, memberi ruang bagi Kanada untuk melakukan counter-attack dan mengamankan poin.
Keadaan serupa terulang di menit ke-12, ketika Meilysa berhasil mengembalikan shuttle dengan drop shot halus. Febriana, yang berada di posisi belakang, terkesan ragu dalam memilih pukulan balasan. Alih-alih menyerang langsung, ia mengirimkan clear yang terlalu tinggi, memberi Kanada waktu mengatur posisi dan menghasilkan pukulan smash yang tak terhindarkan. “Kami menyadari ada beberapa momen di mana kami terlalu pasif. Seharusnya kami lebih tegas pada saat itu,” ujar Febriana dalam konferensi pers singkat setelah pertandingan.
Set pertama berakhir dengan skor tipis, Kanada unggul 13-11. Pada set kedua, tekanan mental tampak semakin terasa. Meilysa berusaha meningkatkan agresivitasnya dengan memasukkan lebih banyak smash, namun tingkat akurasi menurun. Pada menit ke-5 set kedua, Kanada memanfaatkan kesalahan servis Febriana yang melambung keluar lapangan, menambah jarak poin. Meski demikian, Indonesia berhasil mengejar ketertinggalan hingga 8-10, namun kembali kehilangan dua poin beruntun karena kesalahan posisi di net.
“Kami memang memiliki potensi, namun pada turnamen sebesar Piala Uber 2026, setiap peluang harus dimanfaatkan secara maksimal. Jika kami menghabiskan energi untuk mengejar poin yang terlewat, kami akan kehilangan ritme permainan,” kata Meilysa dengan nada serius. Kedua pemain menegaskan bahwa evaluasi taktik dan koordinasi akan menjadi fokus utama menjelang laga berikutnya.
Pelatih ganda putri, Andi Setiawan, menambahkan bahwa strategi yang diterapkan pada pertandingan melawan Kanada memang menekankan pada serangan cepat, namun eksekusi di lapangan belum optimal. “Kami sudah menyiapkan pola serangan yang beragam, tetapi dalam pertandingan nyata, tekanan lawan dan kecepatan shuttle dapat mengubah dinamika. Kami harus belajar menyesuaikan diri lebih cepat,” ujar Andi.
Selain faktor teknis, faktor psikologis juga menjadi sorotan. Pengalaman bertanding di panggung internasional seperti Piala Uber 2026 menuntut ketenangan mental yang tinggi. Febriana mengaku sempat merasakan keraguan ketika Kanada mulai menguasai poin pada fase kritis. “Saat itu kami hampir kehilangan fokus. Namun, kami berusaha bangkit kembali dan tetap percaya pada kemampuan kami,” katanya.
Dengan hasil akhir 13-21, 11-21, Kanada berhasil melaju ke babak selanjutnya, sementara Indonesia harus mengandalkan hasil pertandingan lain di Grup C untuk menentukan kelanjutan turnamen. Pertandingan selanjutnya bagi Indonesia melibatkan tim Jepang, yang dikenal memiliki pertahanan solid dan serangan cepat.
Analisis para pakar badminton menilai bahwa meski Indonesia masih berada dalam posisi yang masih dapat dijangkau, konsistensi dalam memanfaatkan peluang menjadi kunci utama. “Jika Febriana/Meilysa dapat meningkatkan kecepatan transisi dari defense ke offense, mereka berpotensi menjadi ancaman serius bagi tim-tim top,” komentar seorang analis independen.
Ke depan, federasi bulu tangkis Indonesia berencana mengadakan sesi pelatihan intensif, dengan fokus pada peningkatan kecepatan footwork, ketepatan smash, serta koordinasi tim. “Kami tidak akan menyerah pada kekalahan ini. Setiap pengalaman menjadi pelajaran berharga untuk persiapan Piala Uber 2026 selanjutnya,” pungkas Andi.
Dengan semangat yang masih tinggi, Febriana dan Meilysa bertekad memperbaiki performa di laga berikutnya, mengingat bahwa turnamen ini masih panjang dan peluang untuk bangkit masih terbuka lebar.






