TendanganBebas.com – 22 April 2026 | Inter Milan menorehkan kemenangan dramatis 3-2 atas Como pada laga semifinal Coppa Italia yang berlangsung di stadion San Siro pada Minggu malam. Gol pembuka datang dari serangan balik cepat, namun Como berhasil menyamakan kedudukan menjelang jeda babak pertama. Di babak kedua, Inter menampilkan tekanan tinggi, menghasilkan dua gol balasan yang memastikan tempat mereka di final kompetisi bergengsi tersebut.
Babak pertama dimulai dengan serangan cepat Lautaro Martínez yang menemukan celah di pertahanan Como, mencetak gol pertama pada menit ke-12. Namun, Como tidak tinggal diam; pada menit ke-27, striker mereka, Riccardo Saponara, mengeksekusi tendangan jarak jauh yang melesat ke sudut atas gawang Inter, menyamakan skor 1-1. Kedua tim bermain dengan intensitas tinggi, menciptakan peluang berulang-ulang hingga peluit akhir babak pertama dibunyikan.
Memasuki babak kedua, Inter meningkatkan tempo permainan. Pada menit ke-55, Nicolo Barella mengirimkan umpan terobosan kepada Romelu Lukaku, yang menembak dengan kaki kanan ke sudut kiri gawang, mengembalikan keunggulan Inter menjadi 2-1. Gol ketiga datang tak lama kemudian, ketika Alexis Sanchez, yang masuk sebagai pemain pengganti, menyelesaikan serangan balik cepat dengan sundulan tajam pada menit ke-68, mengamankan kemenangan 3-2 untuk Nerazzurri.
Di samping kemenangan tim, kapten Inter, Cristian Chivu, mengungkapkan ambisinya untuk meraih domestic double—menjuarai Serie A sekaligus mengangkat trofi Coppa Italia. “Kami berada di jalur yang tepat untuk menambah koleksi trofi klub. Memasuki final Coppa Italia memberikan motivasi ekstra, sementara kami juga terus berjuang di klasemen Serie A,” ujar Chivu dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Secara statistik, Inter kini menempati posisi ketiga klasemen Serie A dengan 58 poin, berada hanya tiga poin di belakang pemimpin Juventus dan satu poin di belakang AC Milan. Keberhasilan di Coppa Italia meningkatkan moral tim, memberikan dorongan psikologis penting menjelang sisa lima pertandingan liga. Pelatih Simone Inzaghi menekankan pentingnya konsistensi, terutama dalam mempertahankan pertahanan yang sempat kebobolan di beberapa laga sebelumnya.
Strategi taktik Inzaghi pada laga melawan Como menonjolkan fleksibilitas formasi 3-5-2, dengan tiga bek tengah yang solid, sayap yang aktif, dan dua penyerang yang saling melengkapi. Peran Lautaro Martínez tidak hanya sebagai pencetak gol, melainkan juga sebagai playmaker yang menciptakan ruang bagi rekan setim. Sementara Romelu Lukaku menjadi penentu di area lawan, memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk mengamankan bola-bola silang.
Para pendukung Inter yang hadir dalam jumlah besar memberikan sorakan bergelora, menciptakan atmosfer yang mengingatkan pada masa-masa keemasan klub pada awal dekade 2000-an. Dukungan fanatik ini dianggap menjadi faktor pendukung utama bagi para pemain, terutama menjelang pertandingan final Coppa Italia yang diprediksi akan melibatkan lawan kuat seperti Juventus atau AC Milan.
Jika Inter berhasil mengangkat trofi Coppa Italia, mereka akan melangkah ke pertandingan final dengan kepercayaan diri tinggi, namun tantangan di Serie A tetap mengintai. Persaingan ketat dengan Juventus, AC Milan, dan Napoli menuntut performa konsisten sepanjang sisa musim. Bagi Chivu dan rekan-rekannya, mencapai Inter domestic double menjadi tujuan utama yang menggerakkan setiap latihan dan taktik.
Kesimpulannya, kemenangan 3-2 melawan Como tidak hanya membawa Inter ke final Coppa Italia, tetapi juga meneguhkan harapan akan domestic double. Dengan skuad yang terlatih, taktik fleksibel, dan dukungan suporter yang tak tergoyahkan, Inter berada pada posisi yang menguntungkan untuk menambah koleksi trofi pada musim ini.







