TendanganBebas.com – 25 April 2026 | Veteran bulu tangkis asal Korea Selatan, Park Joo Bong, kembali menegaskan pendiriannya terkait perubahan sistem skor yang diusulkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF). Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Seoul, Park menolak keras pengenalan format penilaian baru 15×3 dan menyoroti keunggulan format penilaian 21 poin yang telah lama menjadi standar kompetisi internasional.
Park Joo Bong, yang pernah menorehkan tiga gelar juara dunia dan dua medali perak Olimpiade, menyatakan bahwa perubahan tersebut dapat mengganggu ritme permainan, mengurangi intensitas duel, serta menimbulkan ketidakadilan bagi pemain yang telah beradaptasi dengan sistem lama selama lebih dari dua dekade. “Saya merasa format penilaian 21 poin memberikan tantangan yang adil bagi semua pihak. Setiap poin menjadi sangat berarti, dan itu memaksa pemain untuk menunjukkan konsistensi serta mentalitas yang kuat,” ujar Park dengan tegas.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan proposal resmi BWF yang ingin mengimplementasikan sistem 15 poin per game dengan tiga set, yang dinamakan “15×3”. Menurut BWF, tujuan utama perubahan adalah memperpendek durasi pertandingan, meningkatkan atraktivitas televisi, serta menyesuaikan dengan dinamika penonton modern yang cenderung menginginkan aksi yang lebih cepat.
Namun, kritik dari kalangan pemain senior, pelatih, dan analis tak dapat diabaikan. Banyak yang berpendapat bahwa pengurangan poin secara signifikan dapat meningkatkan unsur keberuntungan, mengurangi strategi bertahan, serta menurunkan nilai historis pertandingan. “Jika kita mengurangi poin menjadi 15, satu kesalahan kecil dapat menentukan hasil akhir. Itu tidak adil bagi pemain yang sudah berlatih keras untuk menguasai teknik dan taktik dalam format 21 poin,” kata Lee Yong Dae, mantan pasangan ganda Park, yang juga mendukung pendirian temannya.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut beberapa perbandingan utama antara kedua format:
- Durasi Rata‑Rata: Format 21 poin biasanya menghasilkan pertandingan dengan durasi 40‑60 menit, sementara 15×3 diproyeksikan sekitar 25‑35 menit.
- Strategi Permainan: Pada 21 poin, pemain cenderung mengatur tempo, menyiapkan serangan berulang, dan memanfaatkan peluang dalam fase defensif. Pada 15 poin, tekanan lebih tinggi sejak awal, menuntut agresivitas konstan.
- Keadilan Kompetitif: Sistem lama memberi ruang bagi comeback, sedangkan sistem baru dapat menutup peluang tersebut lebih cepat.
Park menambahkan bahwa perubahan skor tidak hanya memengaruhi atlet, tetapi juga penyelenggara turnamen, sponsor, serta penonton. “Turnamen yang telah terstruktur selama puluhan tahun harus menyesuaikan jadwal, logistik, dan kontrak televisi. Semua itu menuntut biaya tambahan dan risiko kegagalan komersial jika format baru tidak diterima publik,” ujarnya.
Selain menolak format baru, Park juga mengusulkan agar BWF melakukan kajian mendalam melibatkan seluruh pemangku kepentingan—pemain, pelatih, federasi nasional, serta sponsor—sebelum mengambil keputusan final. Ia menekankan pentingnya proses demokratis dalam olahraga, mengingat keputusan BWF berdampak pada jutaan penggemar bulu tangkis di seluruh dunia.
Respons BWF terhadap pernyataan Park masih bersifat terbuka. Sekretaris Jenderal BWF, Tariq Ahmad, menyatakan bahwa masukan semua pihak akan dipertimbangkan dalam rapat eksekutif mendatang. “Kami menghargai pandangan Park Joo Bong dan para veteran lainnya. Tujuan kami tetap menyajikan bulu tangkis yang menarik, adil, dan berkelanjutan,” kata Tariq dalam pernyataannya.
Komunitas bulu tangkis global kini menantikan keputusan akhir. Sementara itu, Park Joo Bong tetap fokus pada program pelatihan generasi muda di Korea Selatan, berharap bahwa nilai-nilai sportivitas dan kejujuran kompetisi tetap terjaga, terlepas dari perubahan sistem penilaian yang mungkin terjadi.
Dengan reputasi dan pengalaman yang dimilikinya, suara Park menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam debat ini. Bagi banyak penggemar, pernyataannya menjadi panggilan untuk meninjau kembali apa yang sebenarnya membuat bulu tangkis menjadi olahraga yang menantang dan menghibur.
Keputusan BWF akan menjadi titik balik penting dalam evolusi bulu tangkis modern. Apakah format penilaian 21 poin akan terus dipertahankan, ataukah 15×3 akan menjadi standar baru, hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang pasti, suara veteran seperti Park Joo Bong akan terus menjadi landasan dalam setiap keputusan strategis yang diambil oleh federasi internasional.







