TendanganBebas.com – 02 Mei 2026 | Perrin Buford, pemain asing andalan Pelita Jaya Jakarta, mengakui bahwa timnya tidak mampu menampilkan permainan sesuai standar pada pertandingan melawan Satya Wacana Salatiga. Pengakuan ini muncul usai laga yang berakhir dengan kemenangan tipis Pelita Jaya, namun menimbulkan pertanyaan serius mengenai konsistensi taktik dan eksekusi di lapangan.
Dalam wawancara singkat di arena GOR Soemantri Brodjonegoro, Buford menekankan bahwa meskipun tim berhasil menutup skor, kualitas permainan masih jauh di bawah ekspektasi. “Kami harus lebih disiplin dalam pertahanan, terutama dalam transisi cepat. Saat ini kami masih menampilkan pola permainan yang terlalu lambat dan kurang agresif,” ujarnya.
Pertandingan tersebut berlangsung pada hari Senin, 30 April 2024, dan mempertemukan dua tim yang berada di posisi menengah klasemen IBL. Satya Wacana Salatiga, yang dikenal dengan gaya permainan defensif keras, berhasil menekan Pelita Jaya sejak kuarter pertama. Meskipun demikian, Pelita Jaya berhasil menumbangkan lawannya berkat kontribusi besar dari pemain-pemain kunci, termasuk Buford yang mencetak 22 poin, 8 rebound, dan 4 assist.
Namun, selain catatan statistik yang mengesankan, Buford menyoroti beberapa aspek yang masih perlu diperbaiki. Ia mencatat bahwa rotasi pemain belum optimal, sehingga beban kerja terlalu berat pada pemain inti. “Kami terlalu mengandalkan satu atau dua pemain utama dalam fase menyerang, sementara pemain bench belum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menambah intensitas permainan,” jelasnya.
Selain masalah rotasi, Buford juga menyinggung kurangnya konsistensi dalam eksekusi skema ofensif yang telah dirancang oleh pelatih. Ia menilai bahwa beberapa pemain masih belum memahami peran masing-masing dalam sistem pick‑and‑roll, sehingga menghasilkan serangan yang terfragmentasi. “Jika kita ingin bermain dengan standar yang tinggi, semua pemain harus mengerti pergerakan tim secara kolektif, bukan hanya mengandalkan improvisasi pribadi,” tambahnya.
Berikut beberapa poin utama yang diidentifikasi oleh Buford sebagai area perbaikan:
- Disiplin Pertahanan: Memperkuat komunikasi antar‑posisi, khususnya pada switching layar.
- Rotasi Pemain: Memberikan lebih banyak menit kepada pemain bench untuk menjaga kebugaran starter.
- Eksekusi Off‑ball: Meningkatkan pergerakan tanpa bola untuk menciptakan peluang tembakan terbuka.
- Konsistensi Pick‑and‑Roll: Mengoptimalkan peran playmaker dalam memicu serangan cepat.
Pelatih Pelita Jaya, Andi Pratama, mengapresiasi kejujuran Buford dan menegaskan bahwa tim akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah pertandingan. “Kami menghargai masukan dari pemain senior seperti Perrin. Ini membantu kami merancang sesi latihan yang lebih terfokus pada titik-titik lemah yang teridentifikasi,” ungkap Andi.
Sementara itu, para pendukung Pelita Jaya di media sosial menanggapi pengakuan tersebut dengan campuran harapan dan kekhawatiran. Beberapa menyatakan dukungan penuh, sementara yang lain menuntut perubahan taktis yang lebih drastis. Reaksi ini mencerminkan besarnya tekanan yang dialami tim dalam mempertahankan posisi kompetitif di IBL.
Kemenangan atas Satya Wacana Salatiga memang memberikan poin penting, namun tidak dapat menutupi kekurangan fundamental yang diungkap oleh Buford. Jika tim tidak segera melakukan penyesuaian, risiko kegagalan dalam pertandingan-pertandingan berikutnya akan semakin tinggi. Analisis statistik pertandingan menunjukkan bahwa persentase tembakan tiga angka Pelita Jaya turun menjadi 31,5% dibandingkan rata-rata liga sebesar 36,8%, menandakan ketidakefektifan dalam eksekusi tembakan luar.
Ke depannya, Pelita Jaya diharapkan dapat memanfaatkan jeda internasional untuk memperbaiki taktik dan meningkatkan kebugaran fisik. Buford menutup pernyataannya dengan optimisme, mengingat potensi tim yang masih besar. “Kami memiliki pemain dengan kualitas tinggi, hanya saja masih perlu sinkronisasi yang lebih baik. Saya yakin dengan kerja keras dan dukungan seluruh pihak, kami dapat kembali bermain sesuai standar yang kami inginkan,” katanya.
Dengan demikian, tantangan utama Pelita Jaya bukan hanya pada hasil akhir, melainkan pada proses internal yang harus diselaraskan agar dapat bersaing secara konsisten di level tertinggi IBL.







