TendanganBebas.com – 21 April 2026 | Gelandang berusia 27 tahun AC Milan, Ruben Loftus-Cheek, kembali mengungkap pengalaman pahitnya pada pertandingan melawan Parma pada awal musim Serie A 2023/2024. Insiden yang berujung pada patah tulang rahang tersebut kini ia sebut sebagai bab yang telah berlalu, sekaligus menegaskan tekadnya untuk kembali berkontribusi bagi skuad rosso‑nero.
Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter klub mengonfirmasi adanya fraktur kompak pada rahang, yang mengharuskan ia memakai penyangga khusus selama empat minggu. Proses pemulihan tidak hanya melibatkan rehabilitasi fisik, melainkan juga penyesuaian mental. “Saya harus belajar mempercayai kembali tubuh saya. Tak ada yang lebih menantang daripada kembali ke lapangan setelah rasa takut yang menghinggapi,” ungkapnya.
Selama masa absen, AC Milan tetap mengandalkan skuad alternatif, dengan pemain seperti Brahim Díaz dan Rade Krunić yang mengambil alih peran kreatif di lini tengah. Loftus‑Cheek menyadari pentingnya rotasi dan persaingan internal, serta mengapresiasi pelatih Stefano Pioli yang tetap memberikan dukungan moral.
Setelah menjalani serangkaian sesi fisioterapi, Loftus‑Cheek akhirnya dinyatakan fit pada pertengahan September. Ia menekankan bahwa proses rehabilitasi tidak semata‑mata fokus pada kekuatan otot rahang, melainkan pada pemulihan keseimbangan tubuh secara keseluruhan. “Latihan pernapasan, kontrol postur, dan kerja sama dengan tim medis menjadi kunci utama,” jelasnya.
Masuk kembali ke skuad utama, Loftus‑Cheek mendapat kesempatan pertama pada pertandingan melawan Torino. Meskipun hanya bermain selama 45 menit, ia berhasil menciptakan dua peluang berbahaya dan menunjukkan bahwa kecepatan serta visi permainan masih utuh. “Saya tidak lagi membiarkan rasa takut menguasai pikiran. Setiap sentuhan bola adalah bukti bahwa saya sudah kembali ke level tertinggi,” katanya.
Selain menyoroti proses fisik, Loftus‑Cheek juga menyinggung dukungan mental yang diberikan klub. Klub menyediakan konselor psikolog untuk membantu pemain mengatasi trauma pasca‑cedera. “Tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan mental. Saya belajar banyak tentang cara mengelola stres dan tekanan di luar lapangan,” tambahnya.
Melihat ke depan, pemain asal Inggris tersebut menargetkan peningkatan kontribusi dalam kompetisi domestik dan Eropa. Ia berharap dapat memperkuat peranannya dalam skema 4‑3‑3 Pioli, khususnya dalam transisi cepat dari pertahanan ke serangan. “Saya ingin menjadi opsi utama di lini tengah, membantu tim menciptakan peluang gol dan mempertahankan kestabilan defensif,” tuturnya.
Para pengamat sepakbola menilai bahwa pemulihan Loftus‑Cheek menjadi contoh penting bagi pemain lain yang mengalami cedera serupa. “Ketekunan, dukungan medis, dan mentalitas positif adalah tiga pilar utama dalam proses kembali ke performa puncak,” ujar seorang analis sepakbola Serie A.
Secara keseluruhan, insiden Parma tidak hanya menguji ketangguhan fisik Loftus‑Cheek, tetapi juga mengasah mentalitasnya sebagai profesional. Dari luka rahang yang mengancam karier, ia kini kembali bersinar di tengah sorotan publik, siap menorehkan prestasi bersama AC Milan.
Kesimpulannya, perjalanan pemulihan Ruben Loftus‑Cheek memperlihatkan betapa pentingnya sinergi antara tim medis, psikolog, dan pelatih dalam mengembalikan performa pemain pasca‑cedera. Dengan semangat baru, ia menatap tantangan mendatang, menjadikan pengalaman pahit sebagai motivasi untuk meraih sukses lebih besar di kompetisi Serie A dan turnamen Eropa.







