TendanganBebas.com – 12 Mei 2026 | Ultras AC Milan kembali menggebrak arena sepakbola Italia dengan aksi protes yang menegaskan posisi mereka terhadap manajemen klub. Pada minggu ini, kelompok suporter paling berpengaruh di San Siro menampakkan solidaritas massal melalui pengumpulan lebih dari dua puluh ribu tanda tangan serta penempatan spanduk raksasa di depan kantor kepengurusan. Gerakan tersebut secara tegas menyatakan perang terbuka kepada CEO baru, Giorgio Furlani, yang baru saja ditunjuk untuk memimpin struktur komersial dan operasional AC Milan.
Kelompok ultras, yang secara historis dikenal sebagai penjaga tradisi klub dan identitas merah‑hitam, menilai penunjukan Furlani sebagai ancaman bagi nilai‑nilai yang telah mereka jaga selama puluhan tahun. Sebelumnya, Furlani hanya dikenal sebagai eksekutif di dunia pemasaran olahraga internasional, dan kehadirannya dipandang oleh suporter sebagai upaya komersialisasi berlebihan yang dapat mengikis ikatan emosional antara klub dan pendukungnya.
Langkah konkret yang diambil oleh Ultras AC Milan meliputi pengumpulan lebih dari 20.000 tanda tangan melalui platform daring dan kampanye jalanan, serta penempatan spanduk berukuran lebih dari 10 meter yang menampilkan pesan “Tidak Ada Tempat untuk Korupsi di San Siro”. Spanduk tersebut dipasang pada hari Senin pagi tepat di depan gedung resmi klub, menarik perhatian media nasional dan internasional. Selain itu, para anggota ultras juga mengorganisir pawai singkat di sekitar stadion, menambah tekanan publik terhadap keputusan manajemen.
Berikut beberapa tuntutan utama yang tercantum dalam petisi yang dibawa oleh Ultras AC Milan:
- Pengunduran diri segera Giorgio Furlani sebagai CEO.
- Pembentukan komite suporter independen yang berwenang mengawasi keputusan strategis klub.
- Transparansi penuh atas semua transaksi keuangan selama tiga musim terakhir.
- Pembatalan rencana komersial yang dapat mengubah nama stadion atau mengurangi kapasitas tempat duduk demi sponsor.
- Pemberian kembali hak suara kepada anggota resmi klub dalam pemilihan pengurus.
Reaksi resmi dari pihak klub masih bersifat singkat. Juru bicara AC Milan menyatakan bahwa manajemen menghormati hak suporter untuk menyuarakan pendapat, namun menegaskan bahwa keputusan strategis diambil demi kepentingan jangka panjang klub. Pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menanggapi permintaan pengunduran diri Furlani, melainkan menekankan pentingnya dialog yang konstruktif antara semua pihak.
Di antara barisan suporter, terdapat beragam pandangan. Sebagian menganggap aksi ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang sah, sementara yang lain khawatir bahwa konflik yang terus meningkat dapat menurunkan performa tim di kompetisi domestik dan Eropa. Salah satu anggota senior ultras, yang memilih untuk tetap anonim, menuturkan, “Kami tidak menolak perubahan, namun perubahan itu harus melibatkan suara rakyat Milan, bukan hanya investor dan eksekutif asing.”
Para analis sepakbola menilai bahwa konflik internal semacam ini dapat memengaruhi moral pemain dan staf teknis. Mereka memperingatkan bahwa ketegangan berkelanjutan dapat menimbulkan gangguan pada sesi latihan, serta menurunkan fokus pada laga penting seperti Derby della Madonnina melawan Inter Milan. Di sisi lain, beberapa pakar manajemen olahraga berargumen bahwa tekanan dari suporter dapat menjadi katalisator bagi reformasi internal yang lebih transparan dan akuntabel.
Dengan intensitas aksi yang terus meningkat, masa depan hubungan antara Ultras AC Milan dan manajemen klub tampak masih belum pasti. Namun yang pasti, suara suporter tidak lagi dapat diabaikan begitu saja. Kedepannya, baik pihak klub maupun kelompok ultras diharapkan dapat menemukan jalan tengah yang mengedepankan kepentingan bersama, demi menjaga warisan sepakbola Milan yang sudah berusia lebih dari satu abad.

