Crystal Palace Gagal Tidak Mendapatkan Lamine Camara: Monaco Minta Lebih

oleh -0 Dilihat
Crystal Palace Gagal Tidak Mendapatkan Lamine Camara: Monaco Minta Lebih
Crystal Palace Gagal Tidak Mendapatkan Lamine Camara: Monaco Minta Lebih

TendanganBebas.com – 13 Agustus 2026 | Crystal Palace menjadi salah satu klub yang serius mengejar pemain asal Senegal, Lamine Camara. Namun, klub Premier League ini gagal mendapatkan pemain berusia 22 tahun itu setelah AS Monaco menolak tawaran senilai £43 juta.

Monaco tampaknya tidak ingin menjual Camara ke mana pun, terutama tidak ke klub yang tidak menawarkan harga yang sesuai. Ini berarti bahwa Palace harus meningkatkan tawarannya jika ingin berhasil mendapatkan pemain itu.

Baca juga:

Camara telah menjadi salah satu pemain yang paling menjanjikan di AS Monaco, dan klub tersebut pasti tidak ingin kehilangannya. Pemain berusia 22 tahun itu telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa di lapangan, dan Palace pasti akan senang jika dapat mendapatkan dirinya.

Baca juga:

Namun, untuk saat ini, Palace harus menunggu kesempatan lain untuk mendapatkan Camara. Monaco masih tampaknya tidak ingin menjual pemain itu, dan Palace harus meningkatkan tawarannya jika ingin berhasil mendapatkan dirinya.

Baca juga:

Artinya, Crystal Palace harus memikirkan strategi yang lebih baik untuk mendapatkan Lamine Camara. Mereka mungkin harus meningkatkan tawarannya atau mencari pemain lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Baca juga:

Pertarungan transfer di Premier League semakin berat setiap tahun, dan Crystal Palace harus siap untuk menghadapinya. Mereka harus memikirkan strategi yang lebih baik untuk mendapatkan pemain yang mereka inginkan.

Baca juga:

Tentang Penulis: Caling Innis

Gambar Gravatar
Di antara riuhnya pelabuhan Surabaya, Caling Innis menorehkan jejaknya sebagai reporter yang menelusuri nusantara, mengubah setiap sudut jalan menjadi puisi visual lewat lensa kamera. Ketika senja menutup langit, ia tenggelam dalam dunia sci‑fi, menjemput cahaya imajinasi yang kemudian mengalir dalam tiap laporan yang ia rangkai. Dimulainya pada 2017, ia menganyam cerita‑cerita perjalanan menjadi benang penghubung antara realita dan mimpi, mengajak pembaca menapaki horizon baru.