TendanganBebas.com – 18 April 2026 | Jamie O’Hara, mantan pemain Premier League yang kini berkiprah sebagai pundit televisi, kembali menjadi sorotan publik setelah memberikan penilaian tajam mengenai tiga gelandang ikonik Inggris: Paul Scholes, Steven Gerrard, dan Frank Lampard. Dalam sebuah sesi analisis pasca pertandingan yang menampilkan pertemuan tak terduga antara ketiga legenda tersebut di lapangan latihan, O’Hara menegaskan bahwa Steven Gerrard menempati posisi teratas di antara rekan-rekannya.
O’Hara, yang pernah membela klub-klub seperti Tottenham Hotspur, Portsmouth, dan Wolverhampton Wanderers, mengungkapkan bahwa penilaian tersebut tidak semata‑mata didasarkan pada statistik pribadi, melainkan pada keseluruhan kontribusi taktis, mentalitas kompetitif, dan kemampuan memimpin dalam situasi krusial. Menurutnya, Gerrard tidak hanya menjadi motor penggerak tim, tetapi juga sosok yang mampu mengubah arah pertandingan dengan satu tendangan atau serangan balasan yang cepat.
Berikut adalah rangkuman penilaian O’Hara yang dijabarkan secara terperinci:
- Steven Gerrard – Pemimpin Sejati di Tengah Lapangan Gerrard dinilai paling unggul karena kombinasi antara visi permainan, keberanian fisik, serta kecerdasan dalam membaca situasi. Ia mampu menyeimbangkan peran defensif dan ofensif, serta memiliki kemampuan mencetak gol penting di momen-momen kritis. O’Hara menekankan bahwa kehadiran Gerrard di lapangan selalu memberi rasa aman kepada rekan setim, sekaligus menimbulkan ancaman bagi lawan.
- Paul Scholes – Pengendali Tempo dengan Keterampilan Teknikal Tinggi Scholes mendapat pujian atas keahlian teknisnya yang luar biasa, terutama dalam menguasai bola dan mengeksekusi umpan-umpan terobosan. Meskipun demikian, O’Hara berpendapat bahwa Scholes kurang menonjol dalam hal kepemimpinan lapangan dan kontribusi defensif dibandingkan dengan Gerrard.
- Frank Lampard – Penyerang Tengah yang Konsisten Lampard dipuji karena produktivitas golnya yang tinggi, terutama dari posisi gelandang. Namun, O’Hara menilai bahwa meskipun Lampard memiliki rekam jejak mencetak gol yang impresif, ia tidak selalu menunjukkan dominasi taktis yang sama seperti Gerrard dalam mengatur ritme permainan.
Dalam penjelasannya, O’Hara menambahkan bahwa perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan kualitas salah satu pemain, melainkan untuk menyoroti keunikan masing‑masing gelandang dalam konteks sejarah Premier League. Ia menekankan bahwa ketiga pemain tersebut memiliki gaya bermain yang berbeda, yang membuat perbandingan menjadi subjektif tergantung pada kriteria yang diutamakan.
O’Hara juga mengingat kembali momen‑momen penting dalam karier masing‑masing pemain. Ia menyoroti peran Gerrard dalam kemenangan Liverpool di Liga Champions 2005, di mana Gerrard mencetak gol penyeimbang dan memimpin tim dalam perlawanan dramatis melawan AC Milan. Sementara itu, Scholes dikenang lewat kontribusinya dalam era dominasi Manchester United di bawah Sir Alex Ferguson, dengan kemampuan mengendalikan alur permainan dan mencetak gol-gol krusial di fase akhir. Lampard, di sisi lain, menjadi simbol konsistensi Chelsea dengan mencetak lebih dari 150 gol untuk klub, serta menjadi figur sentral dalam empat gelar Liga Inggris yang diraih timnya.
Analisis O’Hara tidak hanya berfokus pada statistik, melainkan pada aspek-aspek psikologis. Ia mencatat bahwa Gerrard memiliki mentalitas “never‑give‑up” yang memotivasi rekan setim dalam situasi tertekan. “Ketika tim berada di bawah, Gerrard selalu menemukan cara untuk mengangkat semangat mereka,” ujar O’Hara dalam wawancara singkat. “Itu adalah kualitas yang sulit diukur dengan angka, tetapi sangat penting dalam penilaian keseluruhan.”
Selain menilai ketiga pemain, O’Hara juga menyinggung evolusi peran gelandang dalam sepak bola modern. Menurutnya, gelandang kini tidak hanya dituntut untuk mengatur serangan, tetapi juga harus berkontribusi dalam transisi pertahanan, menutup ruang, serta menjadi ancaman dalam serangan balik. Dalam konteks ini, Gerrard dianggap paling adaptif karena berhasil menyesuaikan diri dengan taktik yang berubah‑ubah selama kariernya, baik di era fisik maupun era taktik yang lebih terstruktur.
Meski demikian, O’Hara mengakui bahwa penilaian ini bersifat subjektif dan dapat berubah seiring waktu. Ia mengundang para pecinta sepak bola untuk terus berdiskusi dan menilai kembali peran gelandang berdasarkan kriteria yang mereka anggap penting. “Setiap generasi memiliki idolanya, dan perdebatan semacam ini justru memperkaya warisan sepak bola Inggris,” tuturnya.
Dengan mengangkat diskusi ini, O’Hara berharap para penggemar dapat lebih memahami kompleksitas peran gelandang serta menghargai kontribusi masing‑masing pemain dalam sejarah Premier League. Penilaian tersebut menjadi bahan bahan perbincangan di antara analis, mantan pemain, dan penggemar, sekaligus menambah dimensi baru dalam menilai kehebatan para legenda sepak bola Inggris.






