TendanganBebas.com – 13 Juni 2026 | Perdana Menteri Vietnam menegaskan bahwa negara harus melepaskan diri dari pola pertumbuhan tradisional untuk mencapai pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun mendatang. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan internal dan eksternal yang menuntut reformasi struktural, inovasi, serta peningkatan efisiensi investasi.
Dalam rangka mempercepat transformasi, pemerintah telah menyiapkan serangkaian kebijakan yang meliputi:
- Pembebasan modal asing di sektor teknologi, energi terbarukan, dan industri kreatif.
- Pengurangan birokrasi melalui digitalisasi layanan perizinan dan perbankan.
- Peningkatan kualitas tenaga kerja melalui program pelatihan vokasi dan kolaborasi dengan universitas internasional.
- Revisi tarif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi dalam riset dan pengembangan.
Selain upaya struktural, pemerintah juga menghadapi tantangan signifikan terkait aset properti yang terkunci. Diperkirakan sekitar US$127 miliar terperangkap dalam proyek real estat yang belum selesai atau tidak produktif. Nilai ini menghambat likuiditas pasar keuangan dan mengurangi kemampuan negara untuk menyalurkan kredit ke sektor produktif.
Pembebasan dana tersebut menjadi prioritas. Otoritas terkait sedang melakukan audit menyeluruh, menegosiasikan restrukturisasi utang, dan menyiapkan mekanisme penjualan aset yang transparan. Langkah ini diharapkan dapat melepaskan modal yang selama ini terdiamankan, sekaligus mengurangi beban hutang perusahaan properti.
Sejumlah langkah tambahan juga diambil untuk menghilangkan bottleneck yang menghambat laju ekonomi. Kementerian Perindustrian dan Perdagangan memperkenalkan program percepatan proses perizinan, sementara Kementerian Keuangan menyiapkan insentif fiskal bagi proyek infrastruktur hijau yang dapat meningkatkan daya saing jangka panjang.
Target ambisius pemerintah adalah mencetak pertumbuhan ekonomi dua digit pada tahun 2026. Untuk mencapainya, Vietnam menyiapkan strategi tiga pilar: diversifikasi pasar ekspor, pengembangan industri berbasis teknologi tinggi, dan peningkatan investasi domestik melalui kebijakan fiskal yang kondusif.
Para analis ekonomi menilai bahwa pencapaian target tersebut memerlukan koordinasi lintas sektor yang kuat serta kestabilan politik. Mereka menyoroti pentingnya reformasi sistem perbankan untuk meningkatkan aliran kredit ke usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian.
Di sisi lain, dinamika geopolitik di kawasan Asia Tenggara menambah kompleksitas kebijakan. Ketegangan perdagangan global serta perubahan rantai pasok menuntut Vietnam untuk memperkuat posisi tawar melalui perjanjian perdagangan bebas dan kolaborasi regional.
Secara keseluruhan, kebijakan yang diusung pemerintah mencerminkan tekad kuat untuk mengubah paradigma pertumbuhan lama. Jika berhasil, Vietnam tidak hanya akan menorehkan angka pertumbuhan tinggi, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih resilient, inovatif, dan berkelanjutan.
Kesimpulannya, upaya mengatasi hambatan struktural, membebaskan aset yang terperangkap, serta mempercepat reformasi regulasi menjadi kunci utama bagi Vietnam dalam mewujudkan pertumbuhan dua digit yang diharapkan pada tahun 2026.
