De Bruyne Taktik: Perbandingan Tantangan Italia dan Inggris Menjelang Piala Dunia 2026

oleh -0 Dilihat

TendanganBebas.com – 15 Juni 2026 | Kevin De Bruyne, gelandang kreatif asal Belgia yang baru saja menandatangani kontrak dengan SSC Napoli, mengungkapkan pandangannya tentang perbedaan taktik antara Serie A dan Premier League. Pernyataan tersebut muncul menjelang laga persahabatan Belgia melawan Mesir pada kualifikasi Piala Dunia 2026, sekaligus menambah sorotan pada adaptasi pemain asing di liga Italia.

De Bruyne menegaskan bahwa permainan di Italia menuntut kecermatan taktis yang lebih tinggi dibandingkan dengan liga Inggris. “Di Serie A, setiap langkah di lapangan dipertimbangkan dengan matang, baik dari sudut pandang pertahanan maupun transisi ke serangan. Pelatih menuntut disiplin posisi, sementara pemain harus siap beradaptasi cepat pada perubahan formasi,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.

Baca juga:

Berbeda dengan itu, Premier League dikenal dengan kecepatan dan intensitas fisik yang menggelegar. “Di Inggris, tekanan terus-menerus dan kecepatan serangan menjadi kunci. Pemain harus mampu menahan serangan balik dengan cepat dan memiliki stamina tinggi untuk mempertahankan tempo sepanjang 90 menit,” tambah De Bruyne.

Ia juga membandingkan dua sistem pertahanan yang dominan di masing-masing liga. Di Italia, pertahanan zona (zonal marking) dan permainan menahan bola (catenaccio) masih menjadi landasan, sementara di Inggris, pertahanan manusia (man-to-man marking) dan pressing tinggi lebih sering terlihat. “Kita harus menyesuaikan diri dengan pola tekanan yang berbeda. Di Italia, ruang terbuka lebih jarang, sehingga kreativitas harus muncul dalam ruang sempit,” jelasnya.

Baca juga:

De Bruyne menyoroti peran penting pelatih dalam mengatur taktik tim. “Pelatih Napoli, seperti Rudi Garcia, menekankan kontrol bola dan permainan terstruktur, yang menuntut pemain memiliki visi dan kemampuan teknis tinggi. Sementara di Premier League, pelatih seperti Pep Guardiola atau Jürgen Klopp menuntut kecepatan transisi dan fleksibilitas formasi,” ujarnya.

Berikut beberapa perbedaan utama yang diidentifikasi De Bruyne:

Baca juga:
  • Kecepatan vs. Kecermatan: Premier League menekankan kecepatan serangan, sedangkan Serie A menuntut kecermatan taktis.
  • Tekanan Tinggi vs. Penjagaan Posisi: Di Inggris, pressing tinggi menjadi norma, sementara di Italia, pemain lebih fokus pada menjaga posisi dan menunggu peluang.
  • Fisik vs. Teknis: Fisikitas pemain di Premier League lebih dominan, sementara di Serie A kemampuan teknis dan kontrol bola lebih diutamakan.
  • Transisi Cepat vs. Penguasaan Bola: Inggris mengandalkan transisi cepat, sedangkan Italia mengutamakan penguasaan bola untuk mengendalikan tempo pertandingan.

De Bruyne juga mengingat kembali persaingan lama antara Belgia dan Mesir, terutama ketika Mohamed Salah, pemain asal Mesir, pernah beradu dengan De Bruyne di level klub. “Pertemuan ini bukan sekadar pertandingan persahabatan, melainkan ajang untuk menguji taktik yang kami pelajari di liga masing-masing,” katanya.

Dalam konteks persiapan menuju Piala Dunia 2026, De Bruyne menilai pentingnya fleksibilitas taktik. “Tim nasional harus mampu beradaptasi dengan lawan yang memiliki gaya bermain berbeda. Pengalaman di Serie A memberi saya perspektif baru tentang cara mengontrol permainan, yang akan sangat berguna saat menghadapi tim-tim Asia atau Afrika,” ujarnya.

Baca juga:

Selain itu, De Bruyne menekankan peran rekan setim Napoli dalam proses adaptasi. “Rekan-rekan di Napoli sangat membantu saya memahami bahasa taktik Italia. Mereka mengajarkan saya cara membaca gerakan lawan dan bagaimana memanfaatkan ruang yang sempit,” tambahnya.

Para pengamat sepak bola menilai bahwa pernyataan De Bruyne dapat menjadi indikator bahwa semakin banyak pemain top Eropa yang menyadari perbedaan signifikan antara liga-liga utama. Hal ini dapat memengaruhi transfer pasar dan strategi pelatihan di masa depan.

Baca juga:

Secara keseluruhan, perbandingan yang diutarakan De Bruyne menyoroti dua filosofi sepak bola yang berbeda namun saling melengkapi. Bagi pelatih, pemahaman akan perbedaan ini dapat menjadi kunci dalam merancang strategi yang efektif, baik di level klub maupun internasional.

Dengan pendekatan yang lebih matang terhadap taktik Italia, De Bruyne berharap dapat memberikan kontribusi maksimal bagi Napoli dan tim nasional Belgia. Sementara itu, penggemar sepak bola di seluruh dunia dapat menantikan pertandingan-pertandingan yang menampilkan perpaduan strategi cerdas dan aksi cepat, menandai era baru dalam kompetisi global.

Tentang Penulis: Maldini Nazwir

Gambar Gravatar
Maldini Nazwir meluncur ke panggung kreatif Surabaya pada 2009, menorehkan jejak di dunia desain dan konten yang penuh warna. Di sela‑sela deadline, ia menenangkan diri dengan merawat koleksi tanaman hias yang bersemi seperti ide‑ide fresh di kepala, sekaligus ngamatin gerakan cepat tinju lewat layar. Energi millennial‑nya menular lewat tulisan‑tulisan yang selalu ngasih vibe upbeat, bikin tiap pembaca rasa kayak lagi nongkrong di kafe hits.