TendanganBebas.com – 02 Agustus 2026 | Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan dukungan penuh terhadap pernyataan UEFA yang menuntut Gianni Infantino mengundurkan diri sebagai Presiden FIFA. Langkah ini muncul setelah FIFA memutuskan untuk membatalkan rencana Piala Dunia 2025 yang sempat menuai protes luas karena dianggap tidak realistis dan mengganggu jadwal kompetisi internasional lainnya.
Keputusan FIFA itu sendiri menimbulkan gelombang kritik dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, klub, dan asosiasi sepak bola di seluruh dunia. Menurut FA, pembatalan tersebut menunjukkan kegagalan kepemimpinan Infantino dalam mengelola agenda global sepak bola, terutama dalam menyeimbangkan kepentingan komersial dan integritas kompetisi.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari Senin, FA menegaskan bahwa mereka “berdiri bahu-membahu” dengan UEFA dalam menuntut pertanggungjawaban. Mereka menambahkan bahwa keputusan sepihak FIFA menimbulkan ketidakpastian bagi pemain, pelatih, serta penyelenggara turnamen di tingkat klub dan internasional.
- FA menilai bahwa rencana Piala Dunia 2025 tidak memperhitungkan kalender kompetisi yang sudah padat.
- UEFA menyoroti kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan FIFA.
- Kedua organisasi menuntut pembentukan mekanisme pengawasan internal yang lebih ketat.
Selain menyoroti masalah jadwal, FA dan UEFA juga menyoroti isu-isu etika yang mengemuka selama masa jabatan Infantino. Beberapa laporan mengindikasikan adanya tekanan politik dalam pemilihan tuan rumah turnamen, serta dugaan konflik kepentingan dalam kontrak sponsor besar. Kedua badan sepak bola ini menilai bahwa hal tersebut merusak kepercayaan publik terhadap institusi FIFA.
Reaksi Infantino terhadap seruan ini belum resmi. Namun, dalam sebuah wawancara singkat, ia menyatakan bahwa FIFA akan terus berupaya memperbaiki tata kelola organisasi dan menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan sepak bola global. Ia menambahkan bahwa keputusan pembatalan Piala Dunia 2025 diambil setelah pertimbangan matang, meski tidak menyebutkan rincian lebih lanjut.
Para analis sepak bola memperkirakan bahwa tekanan yang terus meningkat dapat memicu perubahan struktural dalam FIFA. Beberapa pakar berpendapat bahwa pemilihan presiden berikutnya mungkin akan melibatkan kandidat yang lebih menekankan pada transparansi dan akuntabilitas. Sementara itu, FA dan UEFA menekankan bahwa mereka siap berkolaborasi dengan badan-badan lain untuk memastikan proses reformasi berjalan lancar.
Dalam konteks yang lebih luas, seruan ini menandai titik balik penting dalam sejarah sepak bola internasional. Keterlibatan dua organisasi paling berpengaruh di benua Eropa menunjukkan bahwa isu kepemimpinan FIFA tidak lagi dapat diabaikan. Jika tuntutan ini berhasil, dunia sepak bola mungkin akan memasuki era baru yang lebih terbuka dan berorientasi pada kepentingan semua pemangku kepentingan.
Kesimpulannya, sinergi antara FA dan UEFA memperkuat posisi mereka sebagai agen perubahan dalam sepak bola. Dengan menuntut pengunduran diri Infantino, mereka mengirimkan sinyal kuat bahwa standar kepemimpinan yang rendah tidak dapat diterima lagi. Masa depan FIFA kini berada di persimpangan; apakah organisasi tersebut akan beradaptasi atau terus menghadapi tekanan, hanya waktu yang akan menjawab.



