FIGC Kecam Pernyataan Gianni Infantino, Sebut Ucapan Tidak Pantas di Tengah Kegagalan Italia ke Piala Dunia

oleh -0 Dilihat

TendanganBebas.com – 15 Juni 2026 | Presiden FIFA, Gianni Infantino, baru-baru ini mengeluarkan komentar yang dianggap menyinggung ketika menanggapi kegagalan tim nasional Italia meloloskan diri dari fase kualifikasi Piala Dunia 2026. Dalam sebuah wawancara santai, Infantino melontarkan lelucon yang menyinggung performa Azzurri, memicu reaksi keras dari Federazione Italiana Giuoco Calcio (FIGM). FIGC dengan tegas menilai pernyataan tersebut tidak pantas dan melanggar etika komunikasi seorang pemimpin sepak bola dunia.

Infantino, yang dikenal memiliki gaya bicara yang blak-blakan, dalam wawancara tersebut menyebut kegagalan Italia sebagai “momen yang lucu” dan menambahkan bahwa “setiap tim butuh pelajaran”. Meskipun maksudnya mungkin untuk memotivasi, banyak pihak yang menilai komentar tersebut kurang sensitif, terutama mengingat tekanan berat yang dirasakan oleh para pemain dan pelatih Azzurri setelah kekalahan yang mengakhiri harapan mereka berkompetisi di turnamen paling bergengsi.

Baca juga:

Reaksi FIGC tidak hanya terbatas pada pernyataan tertulis. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Roma, Gravina menegaskan bahwa sepak bola harus menjadi wadah sportivitas dan rasa hormat antar negara. “Tidak ada tempat bagi lelucon yang menyepelekan kerja keras para pemain dan staf teknis kami. Kami menuntut sikap profesional dari semua pejabat FIFA,” ujar Gravina dengan tegas.

Berikut beberapa poin utama yang disampaikan FIGC dalam pernyataannya:

Baca juga:
  • Penolakan tegas atas lelucon yang menyinggung performa tim nasional.
  • Permintaan klarifikasi resmi dari kantor kepresidenan FIFA.
  • Ajakan untuk memperkuat kode etik komunikasi dalam rapat-rapat internasional.

Selain FIGC, sejumlah tokoh sepak bola Italia juga mengeluarkan komentar. Pelatih kepala Italia, Roberto Mancini, menyampaikan bahwa timnya sedang fokus pada proses pemulihan dan memperbaiki strategi, bukan pada komentar luar yang tidak konstruktif. “Kami menghargai kritik, tapi bukan dalam bentuk ejekan,” katanya.

Para pemain senior Italia, seperti Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini, juga menegaskan pentingnya dukungan moral dari seluruh elemen sepak bola Italia. Mereka menambahkan bahwa komentar seperti yang dilontarkan Infantino dapat mempengaruhi semangat tim, terutama menjelang kompetisi besar berikutnya.

Baca juga:

Komunitas internasional pun memberikan tanggapan beragam. Beberapa analis menyatakan bahwa pernyataan Infantino mencerminkan gaya kepemimpinan yang kadang terlalu santai, sementara yang lain menilai bahwa komentar tersebut hanyalah bagian dari kebebasan berbicara yang harus dijaga.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pernyataan tersebut menimbulkan perdebatan tentang batas kebebasan berpendapat pejabat FIFA. Sejumlah pihak mengusulkan agar FIFA menyusun pedoman komunikasi yang lebih ketat, terutama ketika berhubungan dengan federasi nasional yang memiliki basis penggemar yang luas.

Baca juga:

Dalam konteks yang lebih luas, kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 menandai titik balik bagi sepak bola Italia. Tim nasional telah mengalami penurunan performa sejak era terakhir kemenangan Piala Dunia 2006, dan kegagalan kali ini menambah tekanan pada manajemen serta pelatih untuk merumuskan strategi baru.

Secara statistik, Italia menempati peringkat ke-12 dalam klasemen UEFA pada fase kualifikasi, dengan hanya dua kemenangan dari lima pertandingan. Kekalahan kritis melawan Spanyol dan Serbia menjadi faktor utama yang menghalangi mereka masuk ke putaran berikutnya.

Baca juga:

FIGC menutup pernyataannya dengan menyerukan dialog terbuka antara federasi nasional dan FIFA, demi menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan menghormati nilai-nilai sportivitas. “Kami berharap Infantino dapat memberikan klarifikasi dan, yang terpenting, belajar dari insiden ini untuk tidak mengulangnya di masa mendatang,” tutup Gravina.

Dengan sorotan media yang terus mengalir, langkah selanjutnya akan menjadi titik penting bagi hubungan antara FIGC dan FIFA. Bagaimana FIFA menanggapi kritik ini, serta apakah ada perubahan kebijakan internal yang akan diterapkan, masih menjadi pertanyaan terbuka bagi dunia sepak bola internasional.

Tentang Penulis: Tiban Tampanatu Tampanatu

Gambar Gravatar
Kita dulu sering lihat Tiban ngopi di sudut kafe Tangerang, sambil mengorek catatan dari tumpukan buku sejarah yang selalu menemaninya sejak kecil di rumah penuh percakapan wartawan. Pada 2019, ia meluncur ke dunia menulis, menggabungkan rasa penasaran akan masa lalu dengan adrenalin turnamen e‑sports yang selalu jadi bahan lelucon di antara kami. Sekarang, setiap karyanya terasa seperti cerita lama yang dibalut dengan semangat digital, membuat pembaca betah berlama‑lama mengulik tiap barisnya.